Memorabilia
Dewasa Dari Muswil Ke Muswil
Chapter 4
Menuju Keseimbangan
[Untuk episode yang ini, mungkin saya harus kembali melekatkan sub chapter
Muswil PKS Di Mata Seorang Emak-Emak ...
Teruslah membaca. Anda akan mengerti mengapa. Dan maaf bila episode ini juga terbaca menjadi episode yang sangat emosional ...]
Bersama Ketua Panitia, Mr. Secretary, Ibu Bendahara, sudah melampaui tahun demi tahun – bukan sekedar satu periode kepengurusan lembaga atau partai – untuk lagi-lagi berada dalam anglo besi tempa yang sama.
”Setua” ini orang-orang sezaman yang tersisa. Dan ”setua” ini untuk kembali mengurusi teknis yang sangat teknis. Bersedia jadi panitia muswil sama dengan bersedia dikungkung penjara teknis dan teknis.
”Afwan. Apakah saya tidak ’terlalu’ tua untuk mengurusi yang begini?”
”Apakah gedung megah ini sudah kehabisan orang yang bisa jadi estafeta pelaksana teknis sehingga 4L terulang dan terulang lagi?”
Tapi sejurus: DAR !!! ... Jidat serasa tertembak laras pistol yang pelatuknya ditarik telunjuk tangan sendiri.
Baik mundur dengan mengendap-endap, maupun menolak dengan memproklamirkan, rasa-rasanya sama saja dengan mengambil andil kian jauhnya jarak kejayaan dengan realitas. Menjadi pengamat di kejauhan ...
Dan jika benar ingin diwujudkan, maka dimana menguapnya berbagai fikroh tentang al-wajiibatu aktsaru minal waqtiha? Tentang sedikitnya jumlah rawhilah (penanggung beban)? Tentang jalan yang so’bun tsaabitun ini?
Apakah hanya fasih terucap ketika mengajarkan makna dan urgensi amal jamai di forum-forum liqoat?
Tapi ketiga kanak-kanakmu? Yang semuanya masih butuh bergelendot di leher dan lutut ibunya? Yang bukan sekali dua demam tinggi pada saat kau harus rapat atau berangkat dengan kijang silver DPW?
Dan jangan lupakan kontrakan yang sudah menjelang tenggat?
Atau diamnya belahan jiwamu tanpa terucap protes satu katapun ketika kau pulang saat malam sudah sangat hitam (untuk suamiku, anugerah Allah untuk diri yang sedemikian rupa ini. Tak hingga syukurku atas keridhoannya, walau tentu saja iapun pasti punya batas ... Terimakasih atas kesabaran dan kelapanganmu dari hari ke hari, Be).
Lalu ibumu yang seorang diri di rumah besarnya, yang sesekali menelpon tanpa sejujurnya mengatakan bahwa ia sebetulnya ingin dijenguk. Bahwa ia rindu cucu-cucunya (meleleh selalu jika ingat dirimu, Ibu ...).
Dan bagaimana mungkin bisa kau abaikan tak kurang dari 34 putri-putri tarbiyah yang bukan saja butuh asupan fikroh, namun juga butuh ditelateni, butuh didengarkan tiap masalahnya ataupun diluruskan, butuh waktu dan perhatianmu ... – hingga kesadaran muncul bahwa setiap mutarobbi tak ubahnya Tsabitah, Tsaqifa, atau Syahid yang adakalanya ingin menggelayut. Menggelayut di tatapan matamu ...
... perkenankan kuseka dulu sudut mataku ...
***
Pada setiap ego yang menyelusup, aku sungguh ingin menolak. Atau setidaknya minta pembenaran, mengapa Si A dan Si B boleh mundur diam-diam? Sedangkan kami harus kembali ’dipisahkan dari kehangatan rumah kami’?
-- Mangkat esuk, balik mbengi, ya Sabiq? –
Berangkat pagi, pulang malam.
Allah Maha Penghibur Jiwa. Dan Dia pulalah yang menggerakkan hati. Biarlah al-faqir dan Dia saja yang tahu ...
Maka akhirnya, akupun mengangguk.
Setiap anggukan membuatku menerawang pada satu masalah: Keseimbangan.
Keseimbangan.
Mudah menjaga tetap seimbang jika merayap 20 km/jam.
Longing to see your smile again, my sister.
Keseimbangan hati, sikap, perhatian, ruhiyah ...
Betul saudariku, sulit untuk tersenyum ketika kaki harus tercerabut begitu rupa. Mungkin aku memang belum bisa seimbang. Bahkan untuk menarik sudut bibirpun.
Tapi jika roda berputar 2000 rpm? Bak Jorge Lorenzo atau Valentino Rossi. Harus sigap menjulurkan puncak lutut dan memiringkan motor setiap jumpa tikungan tajam.
Lalu bagaimana caramu melakukan itu? Menjaga keseimbangan itu?
Tidak ada jawaban jitu. Lakukan saja. Tentu ada jatuhnya, ada rasa sakit, ada yang dikorbankan (lagi-lagi mengenang ... mengenang pilihan yang pernah dikorbankan karena roda yang dulu juga berputar begitu cepat. Allah Maha Penolong ... Ada yang jatuh lagi di sudut mata. Maaf.).
Jadi bagi para ibu yang hari-harinya diwarnai rengekan anak karena radang tenggorokan ataupun yang merajuk sekedar ingin jajan di minimart ... Jika Anda menerima amanah itu, amanah yang akan merenggut zona nyaman Anda, maka jangan banyak berpikir. Lakukan saja. Allah Maha Penolong. Inna nashrullahi qoriib ...
***
H-1/2. Syahid mulai demam. Saat aku – dengan teganya (sebagian pasti berpendapat begitu) – nekat membawa ia ikut menjenguk Mas Boy bada isya itu. Agenda ini tak mungkin dibatalkan. Mbak Min, istri Mas Boy, sudah mengiyakan untuk menerima kami berkunjung.
Maka akupun – dengan Syahid di gendongan kangguru – berangkat dari rumah pink Ratu menuju Untung Suropati dengan mengendarai motor. Ya, naik motor.
”Kok ga ditinggal aja sih sama Bapaknya?” Begitu kan protesmu, Ni?
Si Babe sudah ditinggali anak dua. Syahid pasti rewel tanpa ’bau’ ibunya. Bukan pilihan mudah, tapi bismillah ... insya Allah, Allah menjagamu, Nak.
Setelah melalui intermezo kumat spaningnya Mang Yanto, kijang Silver berangkat membawa aku, Ni, Budi, Nadhil, & tentu saja baby boy Syahid.
Badan Si Kumplak panas. Tapi ia tidur sepanjang perjalanan, pulang dan pergi. Menengok Mas Boy yang sakit, dengan membawa anak yang sakit ... Allah Maha Penolong.
Ada kebahagiaan, akhirnya bisa berjumpa dengan salah satu guru jurnalis itu, dalam keadaan yang ternyata begitu progresif. ”Semangadh!” ujarnya. Dan tambahan satu kosa yang menurut istrinya baru terucap malam itu: ”Pasti!”
”Sudah dijenguk seperti ini sudah jadi obat buat Mas Boy,” aku istrinya.
Alhamdulillah. Blessing in disguise.
Lalu esoknya, jẻng- jẻng -jẻng ... muswil time. Media gathering, memastikan kehadiran seluruh insan pers (dengan speaker ponsel melekat di telinga), Beranda Keadilan, ku sendiri harusnya duduk manis jadi peserta muswil ... dan panas Syahid belum jua turun. Batuknya menggelisahkan.
”Saya kuatir dia asma, Kak,” gundah saya malam itu. Nafasnya tampak kepayahan.
Tapi dia, Si Babe, memang selalu jadi yang menguatkan (jangan geer lo, Be. Kadang lu nyebelin juga. Hehe .. pis tupas tapis, piss ya, Say...).
”Insya Allah batuk biasa. Kalau batuk, kan nafasnya jadi susah.”
Malam menjaga Syahid, dan malam saat tiap senti otak bergelimang kekuatiran celah ketidakberesan kerja humas di muswil esok.
Tak bisa tidak, Syahid – Ukasyah Rosyid kami – harus ditinggal sepanjang muswil. Lagi-lagi, bukan pilihan yang mudah, Ibu-ibu sekalian ...
”Bita pengen berenang. Itu Azmi boleh berenang. Kenapa Bita ga boleh?”
Senandung itu lagi. Maka akupun ikut bersenandung. Ada janji yang tentu akan ditagih oleh Si Ayuk yang cerdas dan keras ini.
”Azmi ditemani Mbak Ami. Siapa yang temani Bita? Bita boleh berenang, tapi tidak hari ini. Mame janji!” (And the promise have done. Alhamdulillah).
Ibu jadi salah satu penolong terbesar 17 Oktober itu. Sekali lagi, Allah Maha Penolong. Si Nenek yang biasanya punya agenda aktivisnya sendiri, baik BKOW, kondangan, pengajian atau arisan, alhamdulillah sepanjang hari itu full day off.
17 Oktober 2010. Bagai atom-atom yang berloncatan ... Dan panitia humas yang baru makan malam pukul 01.00 pagi.
Tapi usai juga.
Alhamdulillah.
***
Dua teman yang sama-sama minta solusi atas masalah rumahtangganya, datang saat roda berputar 2000 rpm.
Mungkin Allah kirimkan mereka datang padaku agar ku bisa bercermin perihal keseimbangan.
Yang satu, pasutri cerdas luar biasa. Anak semata wayang mereka seusia Tsaqifa sudah punya kewajiban belajar trilingual: Indonesia, Inggris, dan Jawa halus. Menikah di jalan tarbiyah. Namun Ramadhan dan Idul Fitri justru membawa mereka memutuskan pisah rumah. Ketiadaan murobbi (alias putus liqo) membuat mereka butuh seseorang yang bisa disebut ”mediator”. Aku dan salah seorang ustadz yang mendapat kehormatan itu.
Dan mediator harus mendengarkan keduanya, tentu saja. Termasuk segala yang terburuk. Aib-aib, baik yang dipaparkan maupun yang tersirat.
Sampai tulisan ini diketik, proses ’mediasi’ masih berlanjut. Semoga akhir terbaik saja yang terjadi ...
Lalu, seorang sahabat yang lama tiada kontak. Mengirim pesan pendek setelah melihat namaku wara-wiri di koran. Perih baca smsnya.
Tolong carikan aku kerjaan, Ti. Di partai, di koran, gpp. Kubutuh backup kalo nanti jadi pisah sama bapaknya anak2 ... (Perih, bukan?)
Oalah say, partai tempat mengabdi. Malu minta gaji. Kalau mau kerjaan, yang bisa kutawarkan adalah momong tiga bocah di rumah pink Ratu.
Bagai telaga yang memantulkan bayangan wajah sendiri. Cukup dengan tepukan lembut, basahlah wajah itu terkena airnya.
Keseimbangan.
Ketika urusan publik dan domestik tak lagi jadi seteru.
Ketika urusan kuliah dan dakwah tak lagi dibentur-benturkan.
Ketika distribusi amanah ke semerata kader – tentu saja sesuai kapasitasnya – diberi perhatian sebagaimana perhatian untuk menyempurnakan bentuk piramida.
Keseimbangan yang memang dituntunkan oleh dien ini. Oleh para rasul dan sayyidul ’anam, Rasulullah saw. Karena ini memang dien tawazun.
Menjaga keseimbangan, hingga jumpa Izrail ...
Bersambung
Episode terakhir Memorabilia Muswil: Ruuhul Jadiid
Baca juga
Chapter 3
Blessing in Disguise
| Lutfi H. Ishak bersama Ikranagara, salah satu aktor "Sang Pencerah" |
Idea lamp yang berpendaran di otak saat nonton "Sang Pencerah" adalah 'Mr. AJ, anggota fraksi, DPTW dan yang lain-lain harus nonton. Tak sekedar nonton, tapi nobar.'
Idea lamp makin terang bersinar ketika keluar statemen presiden partai, Ust LHI, usai beliau nonton di XXI (mungkin ada yang belum tahu, XXI – ex ex one - adalah bioskop yang sedikit lebih sophisticated dibanding 21 – twenty one. Di Lampung belum ada). Begini statemennya dikutip detik.com, "Kader-kader PKS di seluruh tanah air saya instruksikan untuk menonton film ini.” (cek berita sahihnya di sini).
Nah.
***
Tak lama kemudian, esensi, urgensi, serta hitungan 'kwitansi' ide ini segera di-forward ke beberapa bapak yang perlu jadi calon audiens nobar. Ada yang antusias, ada yang keep cool: Kita tetap dengan kegiatan yang sudah disetujui SC (alias: udah deh lo. ga usah cem-macem napa? hehe ...); ada juga yang minta diperjelas dulu teknisnya.
Nema problema.
Walau tak yakin nobar bakal dieksekusi, seraya mengerjakan amanah humas yang lain, kami cari informasi soal bioskop yang menayangkan, harga tiket, kemungkinan diskon bila full book, dst. Nadhil banyak ambil peran di sini.
Namun karena tak ada tanda-tanda bakal bersambut, nobar tak lagi disebut-sebut hingga usainya pra-muswil "tanam pohon" yang kenyataannya sulit 'diangkat' itu.
Ngobrol dengan seorang reporter yang sudah berbilang tahun tak pindah-pindah dari desk politik, ia ceritakan kesulitan wartawan desk politik di koran manapun mengangkat isu muswil PKS. Bahwa pada saat yang sama, ia tak menemui kesulitan meliput dua parpol lain yang juga menyelenggarakan muswil/musda.
Untuk Parpol A, ia katakan selalu ada isu yang bisa diangkat karena konflik internal dan timetable muswil yang selalu diulur-ulur. Negatif, tapi bukankah yang begini yang jadi makanan empuk pers.
Sedangkan jelang musda Parpol D selalu ada hot news, karena kandidat demi kandidat - yang semua mencorong namanya - layak jadi topik halaman politik. Sekretaris Parpol D - notabene mantan wartawan - juga rajin men-deliver isu ke pers.
"Nah, muswilnya PKS ini yang kita sering bingung ambil angle apa, Mbak," akunya jujur. Bahkan ia sempat kaget ketika disebut bahwa Pemilihan Umum Internal (PUI) yang merupakan proses awal pemilihan DPTW, sudah berlangsung cukup lama. "Kenapa waktu itu ga ngontak kita, Mbak? Itu kan berita," protes bapak satu anak ini.
Dalam obrolan itu, panjang sudah kami uraikan. Soal runtutan mekanisme naiknya pemimpin baru ke tampuk DPTW. Mengapa Muswil, bahkan Munas PKS, selalu nihil pergolakan.
"Dengan mekanisme begini, di PKS nama menjadi tidak penting. Dalam arti, siapapun yang akan jadi pemimpin wilayah, kader akan menerima dengan baik." Padahal, sebagaimana diamini Wakos, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung sekaligus wartawan desk politik Tribun Lampung, "nama" adalah jualan media.
"Ga ada nama, ya ga ada berita, Mbak," jelasnya.
Sekali lagi, begitulah logika media. Mekanisme yang indah, yang tak dijumpai di parpol lain, tanpa konflik, tanpa kerusuhan. Pemilihan pemimpin yang menegakkan sistem, bukan one man show, bukanlah yang 'dikehendaki' media. Sekalipun teman-teman pers itu mengakui keunggulan mekanisme ini. Mengakui ketidakbiasaannya.
Ada pula satu antithesa lain yang mafhum di kalangan pers, namun tentu tak kita harapkan terjadi di jamaah pemburu surga ini. Menarik media nasional dengan magnet kehadiran Sekjen Anis Matta, faktanya tak cukup jadi alasan mereka untuk mendekat.
"Ada kerusuhan dulu, baru kita mau liput," suara seorang kontributor media nasional.
Sarkas memang, tapi logikanya - logika nilai beritanya - sulit dibantah.
Begitulah. Parpol sudah lama menjadi produk yang digeneralisasi buruk. Setiap sisi yang baik dianggap kamuflase. Aksi simpatik bukan lagi hak prerogatif partai yang insya Allah quwwatun nazhimah ini (takbir 3x!).
Dalam situasi seperti ini, kalkulasi public relation (PR) mengatakan bahwa presisi pemilihan angle, teknik menggelontorkan isu, bersanding dengan kultur pergantian pemimpin yang memang sudah rigid, adalah keniscayaan.
Dan kegelisahan ini rupanya bukan milik saya sendiri.
Maka nobar-pun diangkat lagi. Rencana detail disusun. Komunitas jamaah K.H. A. Dahlan harus diajak serta. Bukan kamuflase. Ini momentum silaturahmi dan memunculkan dialog dua pihak bersaudara.
***
Tak lama kemudian, esensi, urgensi, serta hitungan 'kwitansi' ide ini segera di-forward ke beberapa bapak yang perlu jadi calon audiens nobar. Ada yang antusias, ada yang keep cool: Kita tetap dengan kegiatan yang sudah disetujui SC (alias: udah deh lo. ga usah cem-macem napa? hehe ...); ada juga yang minta diperjelas dulu teknisnya.
Nema problema.
Walau tak yakin nobar bakal dieksekusi, seraya mengerjakan amanah humas yang lain, kami cari informasi soal bioskop yang menayangkan, harga tiket, kemungkinan diskon bila full book, dst. Nadhil banyak ambil peran di sini.
Namun karena tak ada tanda-tanda bakal bersambut, nobar tak lagi disebut-sebut hingga usainya pra-muswil "tanam pohon" yang kenyataannya sulit 'diangkat' itu.
Ngobrol dengan seorang reporter yang sudah berbilang tahun tak pindah-pindah dari desk politik, ia ceritakan kesulitan wartawan desk politik di koran manapun mengangkat isu muswil PKS. Bahwa pada saat yang sama, ia tak menemui kesulitan meliput dua parpol lain yang juga menyelenggarakan muswil/musda.
Untuk Parpol A, ia katakan selalu ada isu yang bisa diangkat karena konflik internal dan timetable muswil yang selalu diulur-ulur. Negatif, tapi bukankah yang begini yang jadi makanan empuk pers.
Sedangkan jelang musda Parpol D selalu ada hot news, karena kandidat demi kandidat - yang semua mencorong namanya - layak jadi topik halaman politik. Sekretaris Parpol D - notabene mantan wartawan - juga rajin men-deliver isu ke pers.
"Nah, muswilnya PKS ini yang kita sering bingung ambil angle apa, Mbak," akunya jujur. Bahkan ia sempat kaget ketika disebut bahwa Pemilihan Umum Internal (PUI) yang merupakan proses awal pemilihan DPTW, sudah berlangsung cukup lama. "Kenapa waktu itu ga ngontak kita, Mbak? Itu kan berita," protes bapak satu anak ini.
Dalam obrolan itu, panjang sudah kami uraikan. Soal runtutan mekanisme naiknya pemimpin baru ke tampuk DPTW. Mengapa Muswil, bahkan Munas PKS, selalu nihil pergolakan.
"Dengan mekanisme begini, di PKS nama menjadi tidak penting. Dalam arti, siapapun yang akan jadi pemimpin wilayah, kader akan menerima dengan baik." Padahal, sebagaimana diamini Wakos, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung sekaligus wartawan desk politik Tribun Lampung, "nama" adalah jualan media.
"Ga ada nama, ya ga ada berita, Mbak," jelasnya.
Sekali lagi, begitulah logika media. Mekanisme yang indah, yang tak dijumpai di parpol lain, tanpa konflik, tanpa kerusuhan. Pemilihan pemimpin yang menegakkan sistem, bukan one man show, bukanlah yang 'dikehendaki' media. Sekalipun teman-teman pers itu mengakui keunggulan mekanisme ini. Mengakui ketidakbiasaannya.
Ada pula satu antithesa lain yang mafhum di kalangan pers, namun tentu tak kita harapkan terjadi di jamaah pemburu surga ini. Menarik media nasional dengan magnet kehadiran Sekjen Anis Matta, faktanya tak cukup jadi alasan mereka untuk mendekat.
"Ada kerusuhan dulu, baru kita mau liput," suara seorang kontributor media nasional.
Sarkas memang, tapi logikanya - logika nilai beritanya - sulit dibantah.
Begitulah. Parpol sudah lama menjadi produk yang digeneralisasi buruk. Setiap sisi yang baik dianggap kamuflase. Aksi simpatik bukan lagi hak prerogatif partai yang insya Allah quwwatun nazhimah ini (takbir 3x!).
Dalam situasi seperti ini, kalkulasi public relation (PR) mengatakan bahwa presisi pemilihan angle, teknik menggelontorkan isu, bersanding dengan kultur pergantian pemimpin yang memang sudah rigid, adalah keniscayaan.
Dan kegelisahan ini rupanya bukan milik saya sendiri.
Maka nobar-pun diangkat lagi. Rencana detail disusun. Komunitas jamaah K.H. A. Dahlan harus diajak serta. Bukan kamuflase. Ini momentum silaturahmi dan memunculkan dialog dua pihak bersaudara.
Bahwa dia berbalut suasana posmo penuh selebrasi entertain (baca: film bioskop), itu justru menambah magnitude isunya,
Maka dari sisi nilai berita ia memenuhi hampir semua asas: kemenarikan, aktualitas, public figure, timing yang tepat. Seluruh unsur layak berita: actuality, prominent, magnitude, proximity, important, tak ada yang tak disentuhnya. Budget – maaf bila harus dibandingkan – dipastikan jauh lebih kecil daripada aksi tanam pohon.
Bungkus!
***
Di perjalanan, telpon dan sms masuk. Rencana berkembang. "Sekalian saja ada konferensi pers." Nashar (bagaimana kabar kompre antum, akhi?) sedia berjibaku mengurusi tempat dan logistik.
Malam, H-2 semua calon audiens dikontak. Sebagian pers juga sudah oke untuk hadir. Pak Akhmadi Sumaryanto yang bersemangat untuk jadi semacam liaison officer dengan pihak PW bersedia hadir besok pagi untuk silaturahmi pendahuluan.
Bungkus!
***
Di perjalanan, telpon dan sms masuk. Rencana berkembang. "Sekalian saja ada konferensi pers." Nashar (bagaimana kabar kompre antum, akhi?) sedia berjibaku mengurusi tempat dan logistik.
Malam, H-2 semua calon audiens dikontak. Sebagian pers juga sudah oke untuk hadir. Pak Akhmadi Sumaryanto yang bersemangat untuk jadi semacam liaison officer dengan pihak PW bersedia hadir besok pagi untuk silaturahmi pendahuluan.
Setelah menidurkan anak-anak, telinga ini tak bisa lepas dari speaker ponsel.
Demikianlah, tepat saat gagang telepon terangkat untuk memastikan kehadiran pihak PW selaku undangan, konfirmasi terakhir itu pun mematikan semua idea lamp yang berpendaran di otak ini.
"Pertimbangan bepeha - begini dan begitu (tak elok saya detailkan di sini) - sebaiknya nobar ditinjau-ulang." Bapak penelepon berulang-ulang menutup konfirmasi itu dengan "afwan".
Di kesempatan yang lalu-lalu, kejadian hampir serupa, sukses membuat saya limbung. Ada yang perlu bilangan hari, bahkan bulan, untuk membuat semangat kembali pulih. Namun kali ini mungkin mental sudah kapalan. Seperti petinju yang kulit tangan dan wajahnya sudah mengeras karena berulangkali kena tonjok (maupun menonjok .. haha ..).
Malam itu juga, baik kru humas, wartawan yang sudah dikontak, Pak Akhmadi serta bapak-bapak calon audiens yang sudah oke hadir, satu per satu disms. Ada juga yang ditelepon. Kami sampaikan maaf karena nobar dibatalkan, tentu dengan menata kalimat semanis mungkin.
Tak perlu merasa nggak enak, Pak. Saya sangat faham mengapa akhirnya nobar harus batal. Mungkin bagi kultur ikhwah di sini, gelombang otak saya bagai tsunami yang bisa meluluhlantakkan tatanan
Saya baik-baik saja, Kawan. Saya sudah berdiri ketika kalian satu demi satu menepuk pundak yang sedikit turun ini.
Tetaplah bersemangat melahirkan ide-ide genial ...
Demikianlah, tepat saat gagang telepon terangkat untuk memastikan kehadiran pihak PW selaku undangan, konfirmasi terakhir itu pun mematikan semua idea lamp yang berpendaran di otak ini.
"Pertimbangan bepeha - begini dan begitu (tak elok saya detailkan di sini) - sebaiknya nobar ditinjau-ulang." Bapak penelepon berulang-ulang menutup konfirmasi itu dengan "afwan".
Di kesempatan yang lalu-lalu, kejadian hampir serupa, sukses membuat saya limbung. Ada yang perlu bilangan hari, bahkan bulan, untuk membuat semangat kembali pulih. Namun kali ini mungkin mental sudah kapalan. Seperti petinju yang kulit tangan dan wajahnya sudah mengeras karena berulangkali kena tonjok (maupun menonjok .. haha ..).
Malam itu juga, baik kru humas, wartawan yang sudah dikontak, Pak Akhmadi serta bapak-bapak calon audiens yang sudah oke hadir, satu per satu disms. Ada juga yang ditelepon. Kami sampaikan maaf karena nobar dibatalkan, tentu dengan menata kalimat semanis mungkin.
Tak perlu merasa nggak enak, Pak. Saya sangat faham mengapa akhirnya nobar harus batal. Mungkin bagi kultur ikhwah di sini, gelombang otak saya bagai tsunami yang bisa meluluhlantakkan tatanan
Saya baik-baik saja, Kawan. Saya sudah berdiri ketika kalian satu demi satu menepuk pundak yang sedikit turun ini.
Tetaplah bersemangat melahirkan ide-ide genial ...
(Jazakumullah, Pak. Semangat itu masih membara. Soal genial atau tidak, very very much depend on each of you, depend on what is your point of view ... Point of view yang tentu tak bisa saya jangkau orang per orang).
Melalui beberapa sms panjang, Ketua DPW PKS - yang kini diinfakkan untuk berkhidmat di Dewan Perwakilan Daerah - Ust. Ahmad Jajuli, dari kejauhan subhanallahnya juga membaca sisa-sisa gundah saya. Padahal saya hanya mengabarkan bahwa nobar tidak jadi, karena satu dan lain pertimbangan.
Melalui beberapa sms panjang, Ketua DPW PKS - yang kini diinfakkan untuk berkhidmat di Dewan Perwakilan Daerah - Ust. Ahmad Jajuli, dari kejauhan subhanallahnya juga membaca sisa-sisa gundah saya. Padahal saya hanya mengabarkan bahwa nobar tidak jadi, karena satu dan lain pertimbangan.
Subhanallah, pekanya basyariah beliau.
Semua sms beliau kemudian saya forwardkan untuk jadi obat hati juga bagi teman-teman humas maupun panitia acara.
Berikut salah satunya (sabarlah membacanya karena memang sangat panjang, tapi melihat situasi beliau mengirimkan sms ini, kata demi kata jadi penuh makna).
14.10.2010 21:17
Kadang dalam hidup, termasuk dalam sebuah organisasi, apa yang terjadi tidak selalu sama dengan yang ideal atau yang kita pikirkan bagus. Bahkan suka ada ironi-ironi, paradoksal. Well,itu sebagai bahan bermanfaat bagi evaluasi kritis ke dalam. Tapi sialnya, kadang yang menjadi korban, berkeringat, dicemooh pihak lain, dan sejenisnya, yang ngadepi resiko, adalah pihak di lapangan. Staf teknis. Jika tidak kuat, kadang-kadang membuat sedih, frustasi, kecewa bahkan menurunkan kepercayaan. Tapi inipun pada akhirnya bagus juga. Buat pematangan pribadi, pematangan komunitas, pematangan organisasi dan para pengambil keputusan. Ada saja blessing dalam 'musibah'. Nah, jika ini terjadi, saran saya kembalikan saja kepada hakikat bekerja. Bahwa kita bekerja bukan untuk pak ini, pak itu: tapi bekerja atas dan untuk Tuhan kita. So, lapangkan dan sediakan hati untuk memberi maaf. Maafkan juga saya tidak berdaya ikuti perkembangan akhir-akhir ini.
Bagai musafir yang sedang berpuasa diberi minuman segar untuk berbuka. Sungguh menyejukkan.
Tentu saja banyak berkah (blessing) dalam situasi seperti ini. Sebongkah besar batu mulia tentang ”tak bertambah ketika dipuji-puja, tak berkurang ketika disungkurkan”. Tentang tsabat, ikhlas, dan sekali lagi tentang tajarrud.
Berikut salah satunya (sabarlah membacanya karena memang sangat panjang, tapi melihat situasi beliau mengirimkan sms ini, kata demi kata jadi penuh makna).
14.10.2010 21:17
Kadang dalam hidup, termasuk dalam sebuah organisasi, apa yang terjadi tidak selalu sama dengan yang ideal atau yang kita pikirkan bagus. Bahkan suka ada ironi-ironi, paradoksal. Well,itu sebagai bahan bermanfaat bagi evaluasi kritis ke dalam. Tapi sialnya, kadang yang menjadi korban, berkeringat, dicemooh pihak lain, dan sejenisnya, yang ngadepi resiko, adalah pihak di lapangan. Staf teknis. Jika tidak kuat, kadang-kadang membuat sedih, frustasi, kecewa bahkan menurunkan kepercayaan. Tapi inipun pada akhirnya bagus juga. Buat pematangan pribadi, pematangan komunitas, pematangan organisasi dan para pengambil keputusan. Ada saja blessing dalam 'musibah'. Nah, jika ini terjadi, saran saya kembalikan saja kepada hakikat bekerja. Bahwa kita bekerja bukan untuk pak ini, pak itu: tapi bekerja atas dan untuk Tuhan kita. So, lapangkan dan sediakan hati untuk memberi maaf. Maafkan juga saya tidak berdaya ikuti perkembangan akhir-akhir ini.
Bagai musafir yang sedang berpuasa diberi minuman segar untuk berbuka. Sungguh menyejukkan.
Tentu saja banyak berkah (blessing) dalam situasi seperti ini. Sebongkah besar batu mulia tentang ”tak bertambah ketika dipuji-puja, tak berkurang ketika disungkurkan”. Tentang tsabat, ikhlas, dan sekali lagi tentang tajarrud.
Memorabilia Lima Tahunan Itu
Muswil PKS Di Mata Seorang Emak-Emak:
Untuk Dikenang dan Semoga Bisa Diambil Pelajaran
Chapter 2
Mengasah Batu Mulia
Hadirin, penggalan di atas (please see Chapter 1 here) sepintas bukan episode yang indah. Dan episode-episode berikutnya juga secara kasat mata mungkin tak bisa disebut episode "menggali harta".
Ibarat orang-orang yang lalu lalang menginjak-injak sebuah batu besar berkalang tanah, akan berbeda dengan orang yang mengerti dan mengamati batu itu baik-baik, membawanya pulang, mencuci, dan mengasahnya hingga bisa ia bawa ke pasar internasional sebagai batu mulia.
Muswil dan begitu banyak momentum dakwah ibarat sebongkah besar batu mulia. Batu mulia berkalang tanah, berlumur lumpur, yang bagi mereka yang tak mengamatinya baik-baik cukuplah menjadi batu yang dilemparkan atau diinjak-injak.
Berikut satu episode lagi yang mudah-mudahan bisa diasah menjadi batu mulia.
Kemarau isu muswil karena kultur adem ayem tiap momen pergantian pemimpin yang sulit dicari hot news-nya mencapai titik puncak saat momentum pra-muswil yang sudah mengerahkan begitu banyak sumber daya akhirnya bisa juga terangkat ke media, namun dengan susah payah.
Ahad, sepekan sebelum muswil, disepakati - tepatnya diputuskan - menggulirkan pra-muswil "tanam pohon" di Kabupaten Pesawaran.
Hadirin, penggalan di atas (please see Chapter 1 here) sepintas bukan episode yang indah. Dan episode-episode berikutnya juga secara kasat mata mungkin tak bisa disebut episode "menggali harta".
Ibarat orang-orang yang lalu lalang menginjak-injak sebuah batu besar berkalang tanah, akan berbeda dengan orang yang mengerti dan mengamati batu itu baik-baik, membawanya pulang, mencuci, dan mengasahnya hingga bisa ia bawa ke pasar internasional sebagai batu mulia.
Muswil dan begitu banyak momentum dakwah ibarat sebongkah besar batu mulia. Batu mulia berkalang tanah, berlumur lumpur, yang bagi mereka yang tak mengamatinya baik-baik cukuplah menjadi batu yang dilemparkan atau diinjak-injak.
Berikut satu episode lagi yang mudah-mudahan bisa diasah menjadi batu mulia.
Kemarau isu muswil karena kultur adem ayem tiap momen pergantian pemimpin yang sulit dicari hot news-nya mencapai titik puncak saat momentum pra-muswil yang sudah mengerahkan begitu banyak sumber daya akhirnya bisa juga terangkat ke media, namun dengan susah payah.
Ahad, sepekan sebelum muswil, disepakati - tepatnya diputuskan - menggulirkan pra-muswil "tanam pohon" di Kabupaten Pesawaran.
Undangan ke pers disiapkan, baik via sms, telepon, maupun jejaring. Rilis sudahpun disetting sedemikian rupa. Nadhil didapuk jadi PJ kontak pers. Nashar bantu dokumentasi. Budi dapat tugas wawancara. Nda dan Bintun tangani notulen setiap kata yang keluar dari Ketua DPW serta pejabat pemerintah yang datang. Satu mobil khusus - lengkap dengan Mang Pardiman - untuk mengangkut para kuli flashdisk ke lokasi acara juga sudah sedia.
"Dil, tolong wartawan itu ditelpon satu-satu. Jangan hanya sms. Pastikan mereka berangkat."
Malam Ahad itupun jadi malam ahad "zhabu-zhabu!". Karena pulsa prabayar habis, maka pulsa pascabayarpun disedot demi lancarnya komunikasi baik ke awak humas maupun wartawan terundang (rasa-rasanya pulsa adalah persoalan kesekian bila main issue-nya adalah kejelasan koordinasi).
Sungguh Ahad yang detik ke detiknya bagai tanpa jeda. Padahal tiga agenda - tanpa menyertakan pra-muswil - sudah diiyakan sejak jauh hari.
"Agendaku 3 Ahad itu, Lin ..." jelasku pada Ibu Bendahara yang sempat kehilangan diriku di pinggir pantai hari itu (narsis tanda eksis). Salah satu agenda pukul 10 bisa mengundang pelototan cukup tajam bila kuabaikan dengan ngotot berangkat ke Pesawaran.
Dan jangan tak percaya ibu-ibu sekalian, ada agenda hari itu yang dimulai pukul 06.00 pagi di rumah, lengkap dengan segala kehebohan domestik di pagi hari. Selesai agenda pagi, barulah meluncur ke Untung Suropati mengecek kesiapan kawan-kawan humas.
Surprise ... surprise ... Hampir pukul 09.00 kulalui portal satpam DPW, Xenia hitam bersama Bintun dan Nadhil yang sudah rapi jali masih termangu manis menanti wartawan yang bakal ikut ke lokasi.
Nadhil. "Belum ada yang datang, Mbak."
"Baik, telpon semua wartawan yang sudah dikontak. Jangan hanya sms. Telpon. Pastikan, mereka berangkat atau tidak. Katakan kita bisa jemput." Berbagi tugas siapa yang bisa dikontak Nadhil dan siapa yang bisa kutelpon, aksi gerak cepat menelpon wartawanpun dilakukan.
Nelpon Si A, katanya yang diproyeksikan bukan ia, melainkan si X. Minta dikirimkan nomor si X, di seberang terdengar nada panggil namun tak jua bersambut. Prosedur standar: redial hingga lima kali. Bila tiada respon juga, segera telpon yang lain, lalu telpon kembali Mr X. Begitu seterusnya.
Lalu Deputy GM media Z, dia bilang akan kontak kantor dulu. Kukatakan, bisakah langsung tunjuk saja siapa yang bisa meliput. Memuaskan dahagaku, dijawabnya, 'Biasanya si D. Langsung saja hubungi D, Mbak. Tapi kalau D tak bisa tolong kirim rilis dan fotonya ke kantor.'
Ada lagi yang jawabannya agak berbeda, "Hari ini ada undangan pernikahan. Kebetulan masih kerabat Pak Pimum. Kami semua ga enak kalau nggak ke sana, Mbak. Gimana ya ..."
Tak satupun yang luput. Seluruh media yang nomor kontaknya tersimpan di ponselku dan Nadhil satu per satu ditelpon. Di-tel-pon. Seraya berulang kali mendengar hipotesis Nadhil tentang 'tidak menjual'nya isu lingkungan sebagai alasan malasnya wartawan meliput.
Iya Dil, isu lingkungan + yang angkat parpol pula = ke laut aje ... Tapi diskusinya sudah panjang dalam rapat-rapat kita yang selalu membahas sesuatu berulang-ulang itu. Apalagi kalau bepeha sudah memutuskan.
Sekali lagi, just do our work, OK.
Singkat cerita, tak satupun yang bisa berangkat bersama Xenia hitam. Memang tak senihil itu, ada wartawan yang menyanggupi untuk langsung ke lokasi. Tak ayal, rencana melesat ke plan B, kirim rilis pasca acara dan menelpon - lagi - satu-persatu, memastikan rilis telah diterima setiap redaksi.
Lagi, kirim-mengirim rilis - karena dilakukan sore hari - tak bisa kutelateni. Kupastikan Ni sudah handle ini dengan baik. Agenda ketiga sudah menunggu jasadku hadir di sana. Ya benar, jasadku hadir, namun mungkin pikiran ini masih mengembara ke rilis yang harus masuk ke semua redaksi koran seantero Lampung.
Dan rapor humas untuk acara "tanam pohon" terpapar di koran keesokan harinya.
Sudah jadi sarapan, pagi-pagi sms masuk dari Mr. Secretary.
Di radar dan lampost ga ada beritanya. tribun saya belum cek. tolong siapkan iklan.
Memang belum sempat cek sendiri koran pagi. Seperti biasa, harus 'zhabu-zhabu!', baru bisa memikirkan yang lain. Tapi jika benar seperti yang dismskan, astagfirullah ... terbayang wajah anak-anak humas yang sudah berusaha belajar cepat. Sudah melakukan segala yang harus dan mungkin dilakukan, based on how they have to adapt in this brand new situation.
Tidak, tidak ... Harus cek sendiri. Setidaknya cari second opinion. Tak butuh waktu lama, Nadhil kirim laporan.
Di tribun ada tapi kecil. Di Lampost juga ada tapi ngambil dari antara. Di radar belum liat.
Selesai. Terbukti, second opinion yang berbeda sangat, bukan?
Setelah berbalas sms, keputusannya tetap saja: iklan. Baiklah. Dalam situasi begini, humas hanya operator saja. Tak ada peran sebagai pengambil kebijakan.
Senin sore pasca rapat panitia yang kini berjalan maraton, berjibaku lagi ngurusi iklan. Foto mana yang paling pas, apa captionnya, dst. Iklan tanam pohon siap ngejreng di koran Selasa.
Koran Selasa itupun akhirnya menurutku jadi kinda joke.
"Andainya kita lebih bersabar," tukas Ni memperlihatkan iklan "tanam pohon" yang mejeng hanya beberapa halaman dari berita yang sama, dengan posisi dan ukuran yang persis sama dengan iklan yang sudah kami bayar tak murah itu.
Jadi, di sebuah koran Selasa itu ada dua berita "tanam pohon". Satu berita hard news. Satu lagi iklan. Sama-sama berwarna, sama-sama headline. Sungguh sangat indah ...
Ada bagian dari diri kami yang ingin berseru, "Apa kubilang ...". Tapi bagian diri yang lain menahannya, "Sudahlah. Toh salah atau benar keputusan pasang iklan yang berjuta-juta itu bisa mereka lihat sendiri dari 'Si Koran Selasa' ...".
"Dil, tolong wartawan itu ditelpon satu-satu. Jangan hanya sms. Pastikan mereka berangkat."
Malam Ahad itupun jadi malam ahad "zhabu-zhabu!". Karena pulsa prabayar habis, maka pulsa pascabayarpun disedot demi lancarnya komunikasi baik ke awak humas maupun wartawan terundang (rasa-rasanya pulsa adalah persoalan kesekian bila main issue-nya adalah kejelasan koordinasi).
Sungguh Ahad yang detik ke detiknya bagai tanpa jeda. Padahal tiga agenda - tanpa menyertakan pra-muswil - sudah diiyakan sejak jauh hari.
"Agendaku 3 Ahad itu, Lin ..." jelasku pada Ibu Bendahara yang sempat kehilangan diriku di pinggir pantai hari itu (narsis tanda eksis). Salah satu agenda pukul 10 bisa mengundang pelototan cukup tajam bila kuabaikan dengan ngotot berangkat ke Pesawaran.
Dan jangan tak percaya ibu-ibu sekalian, ada agenda hari itu yang dimulai pukul 06.00 pagi di rumah, lengkap dengan segala kehebohan domestik di pagi hari. Selesai agenda pagi, barulah meluncur ke Untung Suropati mengecek kesiapan kawan-kawan humas.
Surprise ... surprise ... Hampir pukul 09.00 kulalui portal satpam DPW, Xenia hitam bersama Bintun dan Nadhil yang sudah rapi jali masih termangu manis menanti wartawan yang bakal ikut ke lokasi.
Nadhil. "Belum ada yang datang, Mbak."
"Baik, telpon semua wartawan yang sudah dikontak. Jangan hanya sms. Telpon. Pastikan, mereka berangkat atau tidak. Katakan kita bisa jemput." Berbagi tugas siapa yang bisa dikontak Nadhil dan siapa yang bisa kutelpon, aksi gerak cepat menelpon wartawanpun dilakukan.
Nelpon Si A, katanya yang diproyeksikan bukan ia, melainkan si X. Minta dikirimkan nomor si X, di seberang terdengar nada panggil namun tak jua bersambut. Prosedur standar: redial hingga lima kali. Bila tiada respon juga, segera telpon yang lain, lalu telpon kembali Mr X. Begitu seterusnya.
Lalu Deputy GM media Z, dia bilang akan kontak kantor dulu. Kukatakan, bisakah langsung tunjuk saja siapa yang bisa meliput. Memuaskan dahagaku, dijawabnya, 'Biasanya si D. Langsung saja hubungi D, Mbak. Tapi kalau D tak bisa tolong kirim rilis dan fotonya ke kantor.'
Ada lagi yang jawabannya agak berbeda, "Hari ini ada undangan pernikahan. Kebetulan masih kerabat Pak Pimum. Kami semua ga enak kalau nggak ke sana, Mbak. Gimana ya ..."
Tak satupun yang luput. Seluruh media yang nomor kontaknya tersimpan di ponselku dan Nadhil satu per satu ditelpon. Di-tel-pon. Seraya berulang kali mendengar hipotesis Nadhil tentang 'tidak menjual'nya isu lingkungan sebagai alasan malasnya wartawan meliput.
Iya Dil, isu lingkungan + yang angkat parpol pula = ke laut aje ... Tapi diskusinya sudah panjang dalam rapat-rapat kita yang selalu membahas sesuatu berulang-ulang itu. Apalagi kalau bepeha sudah memutuskan.
Sekali lagi, just do our work, OK.
Singkat cerita, tak satupun yang bisa berangkat bersama Xenia hitam. Memang tak senihil itu, ada wartawan yang menyanggupi untuk langsung ke lokasi. Tak ayal, rencana melesat ke plan B, kirim rilis pasca acara dan menelpon - lagi - satu-persatu, memastikan rilis telah diterima setiap redaksi.
Lagi, kirim-mengirim rilis - karena dilakukan sore hari - tak bisa kutelateni. Kupastikan Ni sudah handle ini dengan baik. Agenda ketiga sudah menunggu jasadku hadir di sana. Ya benar, jasadku hadir, namun mungkin pikiran ini masih mengembara ke rilis yang harus masuk ke semua redaksi koran seantero Lampung.
Dan rapor humas untuk acara "tanam pohon" terpapar di koran keesokan harinya.
Sudah jadi sarapan, pagi-pagi sms masuk dari Mr. Secretary.
Di radar dan lampost ga ada beritanya. tribun saya belum cek. tolong siapkan iklan.
Memang belum sempat cek sendiri koran pagi. Seperti biasa, harus 'zhabu-zhabu!', baru bisa memikirkan yang lain. Tapi jika benar seperti yang dismskan, astagfirullah ... terbayang wajah anak-anak humas yang sudah berusaha belajar cepat. Sudah melakukan segala yang harus dan mungkin dilakukan, based on how they have to adapt in this brand new situation.
Tidak, tidak ... Harus cek sendiri. Setidaknya cari second opinion. Tak butuh waktu lama, Nadhil kirim laporan.
Di tribun ada tapi kecil. Di Lampost juga ada tapi ngambil dari antara. Di radar belum liat.
Selesai. Terbukti, second opinion yang berbeda sangat, bukan?
Setelah berbalas sms, keputusannya tetap saja: iklan. Baiklah. Dalam situasi begini, humas hanya operator saja. Tak ada peran sebagai pengambil kebijakan.
Senin sore pasca rapat panitia yang kini berjalan maraton, berjibaku lagi ngurusi iklan. Foto mana yang paling pas, apa captionnya, dst. Iklan tanam pohon siap ngejreng di koran Selasa.
Koran Selasa itupun akhirnya menurutku jadi kinda joke.
"Andainya kita lebih bersabar," tukas Ni memperlihatkan iklan "tanam pohon" yang mejeng hanya beberapa halaman dari berita yang sama, dengan posisi dan ukuran yang persis sama dengan iklan yang sudah kami bayar tak murah itu.
Jadi, di sebuah koran Selasa itu ada dua berita "tanam pohon". Satu berita hard news. Satu lagi iklan. Sama-sama berwarna, sama-sama headline. Sungguh sangat indah ...
Ada bagian dari diri kami yang ingin berseru, "Apa kubilang ...". Tapi bagian diri yang lain menahannya, "Sudahlah. Toh salah atau benar keputusan pasang iklan yang berjuta-juta itu bisa mereka lihat sendiri dari 'Si Koran Selasa' ...".
Sms seperti berhamburan masuk dari berbagai penjuru.
Sayang amat Mbak, pasang iklan itu. Keputusan siapa sih?
Mengapa bisa ada dua berita kita di koran QWERTY? Yang satunya iklan? Bayar berapa itu?
Jangan lupa berita-berita muswil kirim ke wilda ke email xyz.
... Membaca satu demi satu sms yang masuk saat rapat. Kirim berita ke wilda? Sungguh, seseorang dengan tingkat tajarrud, totalitas, dedikasi seperti Pak Munawardi memang layak membuatnya terbang mencium Hajar Aswad. "Sudah saya kirim ke wilda, Bu. Ngga papa kan kalo saya yang kirim?" begitu ujar Pak Mun.
Saya malu sekaligus haru. Itu seharusnya tugas saya.
(Khususon untuk Koori: Jangan tanyakan apa yang didapat oleh orang-orang seperti ini, Ri. "Kok sampe begitu banget. Apa sih yang dicari?" katamu. Menyusuri sepuluh arkan al-bai'ah, jelas bahwa orang-orang seperti Pak Mun tak lagi memaknai tajarrud sekedar hafalan atau pengetahuan belaka.
Beliau sudah bertahun-tahun melakukannya.)
***
Kembali ke kejadian iklan tanam pohon. Batu mulia dari episode ini antara lain: Pers punya rumus dan logikanya sendiri. Kita bisa saja bekerja dan hanya bekerja, mengabaikan publisitas dan manajemen isu. Tak ubahnya orang yang merasa selalu bergerak, selalu melakukan sesuatu. Padahal sebenarnya yang dia lakukan adalah berlari mundur.
Bukankah rancu bicara keterbukaan, pluralitas, target 3 besar, dan yang semacam itu, jika masih setia bertahan pada logika kita sendiri?
Demikianpun, pada akhirnya ada batu mulia yang lain: takzim pada syuro tetap harus menjadi bingkai bahkan pemupus segala kekecewaan.
Satu pahala, Kawan. Itulah yang paling penting.
Bersambung: Chapter 3 Blessing in Disguise
Satu pahala, Kawan. Itulah yang paling penting.
Bersambung: Chapter 3 Blessing in Disguise
Memorabilia Lima Tahunan Itu
Muswil PKS Di Mata Seorang Emak-Emak:
Untuk Dikenang dan Semoga Bisa Diambil Pelajaran
| adi rahmad's framework |
Prelude
Muswil.
Ini momen lima tahunan. Tak ubahnya pemilu, olimpiade (oke, oke ... yang ini empat tahun sekali), pergantian Sekjen PBB. Prinsipnya, ia sesuatu yang ditunggu-tunggu.
"Ini momen spesial, Mbak. Untuk yang seperti ini, bukan reporter yang saya kirim. Biasanya saya sendiri yang langsung turun," tutur redaktur politik sebuah harian. Dan benar, di dua kesempatan sepanjang muswil ke-2 kita ini, beliau sendiri yang hadir. Terimakasih Mas Dominikus Widodo.
Muswil Ke-2. Ada yang sama sebagaimana situasi lima tahun yang lalu. Tapi juga ada banyak hal baru.
Salah satu yang sama adalah muswil yang lalu maupun sekarang membuat semua yang terlibat di dalamnya makin "kaya", tentu saja bagi yang pintar-pintar menggali "kekayaannya."
***
Under Pressure
Iklan hari ini muncul di koran mana? Kok saya cari-cari nggak ada. Harusnya sudah ada yang muncul sejak senin pekan lalu.
Kepala yang sudah berputar karena 'zhabu-zhabu' (ini versi morning panic saya setiap menyiapkan anak-anak sekolah dan suami ngantor. Kedua bidadari kecil sering meledek ibu mereka yang gupek setiap pagi dengan: "Zhabu-zhabu! ... Zhabu-zhabu!"). Jadi, zhabu-zhabu ditambah membaca sms seperti ini ... bisa dibayangkan bagaimana akselerasi perputaran di kepala ini.
Mohon maaf Mr. Secretary, entaran aja ya saya jawab sms sampeyan.
Sms-sms serupa subhanallahnya masuk secara frekuentatif. Ya, memang sudah tugas beliau untuk ngecek. Saya tahu. Dan sebetulnya yang paling mengganggu pikiran adalah, setiap sms dan setiap protes menandakan adanya pekerjaan yang belum beres. Allah ...
Rotasi bumi terasa begitu cepat. Berpisah dengan Rabu yang lalu, segera berjumpa Rabu yang baru [hari Rabu adalah jadwal rapat panitia muswil. Supaya efektif, rapat humas saya dekatkan dengan 'rapat paripurna panitia']. Dan di Rabu yang baru, humas muswil belum bisa men-checklist satupun amanahnya. Belum satupun yang selesai, baik iklan, spanduk, baliho, rilis, dan ini dan itu, dan banyak lagi.
Allah ...
Ponsel mungil berdering-dering. Julhai.
"... proposal-proposalnya saya tarok di ruang sekretariat ya, Mbak." Singkatnya, ada tambahan pekerjaan untuk para awak humas: mengantarkan surat dan proposal.
"Bisa minta tolong OB atau sekretariat ga sih, Jul?"
"Humas kan banyak tuh Mbak. Kayaknya semangat-semangat anak-anaknya."
Allah ...
Benar. Humas memang punya tenaga-tenaga segar, tapi pemberdayaan mereka lebih pada bab "minta tolong". Nggak bisa pake bahasa instruksi, akhi. Dan humas masih diposisikan jadi "tukang pos"? Please deh.
Masih di Rabu yang baru. Rasa tak karuan sejak subuh. Sugesti 'harus sehat ...harus sehat' dikombinasikan dengan teh manis dan nasi kuning yang dibeli Si Babe rupanya tak cukup mujarab membuat badan lebih fresh.
Bismillah sajalah. Insya Allah sehat.
Siang yang ramah. Zebra merah melaju menuju Untung.
Di ruang pojok yang sebetulnya sangat tak representatif untuk rapat ikhwan akhwat sesesak ini, rapat humaspun berjalan riuh seperti biasa.
Setiap bagian dari tim ini memang masih belajar, namun kurasa ini tim yang berenergi. Sungguh aneh, tim macam ini belum juga sukses menghasilkan satupun produk humas. Jika demikian, maka kesalahan terbesar tentu saja ada pada ... Jemari yang tak menunjuk pada sesiapapun kecuali diri sendiri.
"Desain spanduk bukannya belum jadi. Sudah ada beberapa desain. Tapi banyak komplain. Nggak sesuai standar," cetus saya seraya melingkarkan tangan menghalau dinginnya AC yang pada kondisi normal biasanya saya akrabi.
"Iya, Bu," cetus Budi, anak Bekasi mantan Menteri BEM yang menurutku 'sudah jadi' ini. "Desainnya nggak seperti yang biasa dia buat. Katanya agak takut bikin yang macem-macem."
"Saya sudah sampaikan, out of box aja. Jangan desain yang biasa-biasa. Buat beberapa alternatif. Tapi ya sudahlah, sepertinya memang harus ngontak Adi lagi."
Dan nama yang disebut terakhir ini memang begitu soibuknya. Begitu dinanti setiap rapat, begitu dibutuhkan, tapi wujudnya selalu ada di belahan bumi yang lain ... [untuk Ni, walau bagiku sikapmu tetap kekanakan, pada akhirnya ku bisa mengerti apa yang kau maksud 'tak cocok' itu. Dan tak jarang "ada di belahan bumi yang lain" itu juga kurasakan terjadi padamu. Syukurnya ini temporer kan].
Denyut mulai merata di sekujur badan. Dan rasa-rasanya gejala sesak yang muncul tak setahun sekali ini kumat pada saat yang "sungguh tepat". Kembali melantunkan 'zikir' yang sama: "Ya Allah, masih kuat... masih kuat ...".
'Me, Bita mau main game!"
Mantap, satu imtihan lagi. Si Sulung yang alhamdulillah hari ini sosorangan wae tanpa kedua adiknya. Biasanya rengekan serupa saya jawab dengan tatapan panjang tanda tak setuju. Tapi saat ini rasa-rasanya kedua tangan lebih nyaman tetap melingkari bahu daripada menekan keypad netbook.
Rapat tetap mengalir.
Ide-ide bermunculan. Nadhil, Budi, Una, Ima, Nda, Nashar - yang sore itu masih menjangkar di Jakarta -, dan Bintun, diperjumpakan pula dengan Ni, Adi, dan Nugie, memang aset brilian dengan gaya dan karakter mereka masing-masing. [Semoga kalian belajar banyak ya teman-teman...]
"Jadi, pra-muswil yang tanam pohon itu tetap jadi, Mbak? Kenapa ngotot tanam pohon? Isunya nggak seksi banget," tukas Nadhil. Ikhwan potensial yang tumbuh dalam limpahan kultur tarbawi ini memang outspoken. Tapi kurasa ia menyampaikan keberatan yang sama ada dalam kepala rekan-rekannya.
Saya mengangguk.
"Kita tidak dalam posisi untuk mempertanyakan mengapa bapak-bapak itu bersikeras meluncurkan program yang tidak terterima oleh media. Cukuplah kita melakukan tugas kita sebagai humas dengan baik." Entahlah, mungkin kata-kata itu meluncur dalam keadaan setengah sadar ...
Namun sore itu, skejul humaspun selesai dibuat. PJ sudah dibagi-bagi. Alhamdulillah...
Adzan ashar mengalun dari mushola.
Maka saat kaki melangkah untuk break sholat di ruang bidang wanita alias bidwan, pandanganpun mulai berkabut. Berkabut dan berputar. Ah, ah ... cocoknya.
"Panas amat badan lo. Gw usepin minyak kayu putih ya ..." Subhanallah, pasti rasanya enak banget. Walau nyaris ga berasa apa-apa karena sudah melampaui ambangnya, mungkin. Jazakillah anyway, Ni.
Be, tolong anterin pulang ya. Saya ga kuat bawa mobil.
Begitu di layar terbaca sent, ponsel mungil dengan batre ngedrop inipun mati.
Waktunya paripurna panitia. Kepala saya benar-benar tak bisa tegak.
Allah ...
"Mbak Detti mana? Dah dipanggil rapat tuh," suara maupun kelebat badan bongsor Nadhil tak begitu jelas dari balik pintu bidwan.
"Tepar!"seru Ni. "Udah tolong ijinin aja. Dia sakit."
Rapat Rabu kali ini, Allah anugerahi asma yang kambuh bersama vertigo, mungkin agar saya tak mendengar humas - lagi-lagi - dihujani target dan tenggat yang selalu lewat. Maafkan saya teman-teman.
Saat menyampaikan khitob qiyadi-nya, satu kalimat yang kemudian terdengar begitu indah diucapkan Sekjen PKS Anis Matta: "Kejayaan dakwah hanya bisa diraih oleh orang-orang yang mampu bekerja under pressure."
Ya, sesaat ambruk ... untuk segera bangkit.
Tak mudah. Ada salah paham. Ada jam tidur yang harus digadaikan. Ada kebersamaan keluarga yang dikesampingkan. Ada perhatian yang harus terbagi. Namun pada akhirnya 'sembelit' itu sembuh juga. Iklan muncul di koran-koran, spanduk, beranda keadilan edisi muswil dengan kertas art paper (ahh...), media gathering (done!) dan sederet checklist humas yang pada akhirnya bisa diberi tanda centang.
Alhamdulillah.
Bersambung: Mengasah Batu Mulia
Tips Singkat : Mencegah Kejahatan Hipnotis
Posted by: "~ Made Teddy Artiana ~" made.t.artiana@gmail.com
Mon Sep 6, 2010 9:53 pm (PDT)
Berhubung artikel ini saya ketik ddi sebuah bengkel mobil, pada saat sedangmenunggu para montir mengganti beberapa jenis oli dimobil saya, maka langsung straigth to the point aja yah..!
Otak manusia pada saat normal atau sadar beroperasi pada gelombang betha, sedangkan disaat tidak sadar (semi sadar) otak kita beroperasi pada
gelombang alpha. Nah hipnotis terjadi pada area bawah sadar, yaitu pada saat otak beroperasi pada gelombang alpha. Jadi jika kita ingin mengantisipasi kejahatan hipnotis sebenarnya cukup mudah. Jaga gate antara sadar dan bawah sadar Anda.
Caranya?
Begini beberapa emosi dapat seketika ataupun perlahan menghantarkan kita pada area siap untuk dihipnotis. Marah, bingung, kagum, takjub , takut, full konsentrasi atau memang karena memang dengan sadar
mengijinkan seseorang memasuki bawah sadar kita.
Jadi cara menutup gerbang itu cukup mudah waspadai emosi-emosi tersebut di atas. Stay allert alias tetap waspada. (bukan tegang loh)..tetapi biarkan otak Anda tetap bekerja secara wajar, sehingga Anda tidak mendekati area gelombang alpha. Tidak ada seorangpun bisa menghipnotis Anda jika otak kita
sedang bekerja diarea sadar (gelombang betha), kecuali dia nekad membius...nah ini sudah beda masalahnya :).
Caranya cukup simple..membaca sesuatu yang membuat Anda berpikir, ngisi TTS, jangan melamun (apalagi yang jorok), jika seseorang berbicara kepada Anda pertahankan logika, kekritisan otak dan jangan mudah percaya atau takjub kepadanya.
Pemberitaan disana-sini tentang hipnotis (tanpa solusi yang berarti) justru mempermudah seseorang dihipnotis. Mengapa ? karena pemberitaan- pemberitaan itu menyebarkan ketakutan disana-sini dan membesar-besarkan kekuatan kejahatan hipnotis, seolah-olah kejahatan hipnotis adalah hantu besar menakutkan yang tidak dapat dikalahkan. Ini tentunya tidak benar !!
Jadi tenangkan diri Anda. Jika Anda merasa menjaga 'kesadaran' itu begitu sulit, ada satu hal yang membuat Anda tidak mungkin terhipnotis oleh apapun...berdoa (tentu saja bukan dalam ketakutan loh)..dan mintalah TUHAN yang menciptakan otak Anda menguasai pikiran sadar dan bawah sadar Anda.
Kalau ini Anda lakukan...sampai muntah-muntah. ..si tukang hipnotis tidak akan sanggup menghipnotis Anda. Saya jamin !!!
Selamat mudik...jaga kesehatan Anda dan keluarga...TUHAN beserta Anda dan selamat berbahagia dan selamat Hari Raya Idul Fitri !!!!
*Made Teddy Artiana, S. Kom*
*writer & photographer yang sangat menggemari hypnotherapy*
*http://semarbagongpetrukgareng. blogspot. com
mobile# 0813 178 227 20
MTA di Majalah Human Capital
http://www.portalhr .com/majalah/ edisiterbaru/ bisnis/1id1549. html
MTA di Majalah SWA
http://swa.co. id/2009/08/ made-teddy- artiana/
MTA di Majalah Bahana
http://www.ebahana. com/warta- 2162-Dari- Hobi-Datanglah- Rejeki.html
MTA di Kompas
http://ekonomi. kompasiana. com/2010/ 02/12/testimoni- seorang-mantan- karyawan- bca-resign- dari-tempat- kerjanya
| Pict. of Brutus's slaughtering Julius Caesar |
Menang atau kalah bisa jadi sangat penting. Tapi kepandaian untuk mengambil berjuta pelajaran di balik kekalahan pun kemenangan, tentu jauh lebih penting.
Di balik cerita tentang mental pemenang serta pecundang, tiap medan peperangan menyisakan satu karakter lagi. Tabirnya mungkin lambat terbuka. Tapi bila ia memang harus terbuka, tak satu makhluk jua dapat menahan tabir itu untuk terbuka. The Traitor. Si Pengkhianat.
Ketangguhan lawan tarung yang membuat juara bertahan terjerembab, nyerinya tidaklah masuk ke sumsum tulang. Bahkan kisah buaya-buaya mangap juga jadi kisah klasik betapa orang berkerumun untuk mengisap madu, bukan untuk jadi kontributor penyerbukan yang menyebabkan bunga-bunga mekar menjadi buah yang manis.
Orang yang selama ini dipercaya, tumbuh bersama, murid dari sang guru namun kemudian menikam gurunya sendiri, rasanya bak ditikam tepat di jantung, berkali-kali.
Dia dibuat percaya bahwa dia penting. Kepadanya dikatakan bahwa dia orang ring 1. Dia dijanjikan status penting ambtenaar. Yayasan prestisius menanti. Motor matic sudah dipakainya hilir mudik kesana kemari.
Terkaman buaya mangap memang menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi bila buaya mangap itu tadinya adalah anak rusa yang diasuh penuh kasih sayang.
Helaan napas sambil terus belajar. Terus belajar.
Memang begitu adanya. Ini posting coba-coba setelah beberapa posting terakhir tak bisa masuk via Compose.
Betapa banyak yang harus dipelajari - dengan kecepatan dan ketepatan belajar luar biasa - sedangkan pada saat yang sama perkembangan ilmu bagaikan geledek badai lupit.
Oke, harus segera berangkat untuk "belajar" pekanan.
Yuk!
Betapa banyak yang harus dipelajari - dengan kecepatan dan ketepatan belajar luar biasa - sedangkan pada saat yang sama perkembangan ilmu bagaikan geledek badai lupit.
Oke, harus segera berangkat untuk "belajar" pekanan.
Yuk!
Mesti sinau tentang platform ... Hoalah sudah jelang subuh baru bedebam bedebum panggung 17-an senyap. Baby Ukasyah sudah 6 kali bangun. Nah tu bangun lagi ...
--
Belajar, bukan karena kemestian yang berasal dari luar. Saya harus belajar karena saya sendiri yang mewajibkan diri saya untuk belajar.
Seorang Bunda sempat bertanya, "Kapan kamu sempat nulis? Kapan kamu sempat baca?"
"Ya malam. Cuma malam waktu yang paling tenang."
"Apa bisa? Saya juga pengen nulis, tapi kalau malam saya sudah 'terkapar'."
Saya diam sebelum menjawab, "Entahlah Bun, kalau sudah di depan komputer, semua mengalir saja."
Conversation closed.
Blogging time closed.
Subuh memanggil.
--
Belajar, bukan karena kemestian yang berasal dari luar. Saya harus belajar karena saya sendiri yang mewajibkan diri saya untuk belajar.
Seorang Bunda sempat bertanya, "Kapan kamu sempat nulis? Kapan kamu sempat baca?"
"Ya malam. Cuma malam waktu yang paling tenang."
"Apa bisa? Saya juga pengen nulis, tapi kalau malam saya sudah 'terkapar'."
Saya diam sebelum menjawab, "Entahlah Bun, kalau sudah di depan komputer, semua mengalir saja."
Conversation closed.
Blogging time closed.
Subuh memanggil.
